Festival
Festival, News - Saturday, November 8, 2008 4:33 - 1 Comment
Suarasama di Hitam Putih World Music Festival 2008
Salah satu syarat untuk dapat mengekplorasi musik etnik kita harus faham benar musik etnik yang ada, demikian salah satu komentar Irwansyah Harahap, musisi sekaligus etnomusikolog dari Medan tatkala diwawancara oleh MC dimalam pertama pagelaran Hitam Putih World Music Festival 2008 di Bandar Serai, Pekanbaru, Riau.
Keesokan harinya (24/10), ia membuktikan ucapannya. Berbekal sebuah alat musik gambus Irwansyah Harahap tampil bersama sang istri Rithaony Hutajulu pada vocal dan sejumlah musisi lainnya, memukau penonton yang sebahagian besar anak-anak muda kota Pekanbaru dan sekitarnya.
Ada dua pendekatan konsep musik Suarasama yaitu musik kontemporer dengan pendekatan world music dan yang kedua musik dan tari tradisi sumatera utara.
Pembuktian atas teori dan konsep diatas tertuang dalam karya-karya yang mereka sajikan malam itu. Lagu pertama misalnya “Bahtera” merupakan sebuah lagu dedikasi pada Nusrat Fateh Ali Khan dengan mengangkat tradisi Qawwali, sebuah musik yang kerap disebut sebagai musik sufi, yang dalam tingkat tertentu mampu mencapai “spiritual ecstasy” dalam sufisme. Rithaony yang pernah belajar dengan almarhum Nusrat mampu menyihir penonton untuk memberikan applaus yang meriah tatkala lagu ini usai ditampilkan.
Selanjutnya mengalir lagu Perang yang disusul oleh-oleh dari Medan, “Selayang Pandang” yang dirangkai dengan “Zapin Rindu”. Tatkala lagu ini baru selesai dimainkan, seoarang anak muda maju kedepan panggung dan membawa sebuah kertas bertuliskan Lebah. Rupanya ia meminta lagu tersebut untuk dibawakan. Sejatinya Suarasama sudah berniat menyelesaikan pertunjukan apalagi kedua MC sudah tiba dipanggung dan bersiap menutup. Rupanya teriakan lagi, lagi dan lagi terdengar cukup keras dan akhirnya mengalirlah “Lebah” sebagai encore pertunjukan Hitam Putih World Music Festival di hari kedua.
***
Menyimak Suarasama, saya seperti diingatkan pada hal serupa tatkala mendengarkan musik Krakatau. Bedanya pijakan Krakatau memang 100% di jazz. Sementara Irwansyah dan kawan-kawan tak melulu mengulik Jazz atau lebih tepatnya, konsentrasinya bukan semata pada jenis musik yang kaya improvisasi tersebut.
Hal itu mungkin dipengaruhi oleh kajian dan ketertarikannya pada konsep musik dunia yang dipelajarinya selama di University of Washington di Seattle, Amerika Serikat. Bukan sebuah kebetulan sang istri juga belajar di kampus yang sama tatkala keduanya menyelesaikan studi S2 bidang Etnomusikologi.
Irwansyah Harapan banyak menggali konsep musik dunia seperti kebudayaan musik afrika, Timur Tengah India, Sufi Pakistan, Eropa Timur, dan Asia Tenggara. Itu dinyatakan jelas dengan instrumentasi yang mereka hadirkan diatas panggung malam itu.
Inilah personel Suarasama malam itu, Irwansyah Harahap memainkan gambus, gitar akustik elektrik, Rithaony Hutajulu (vokal), Syainul Irwan (vokal, harmonium), Horas Panjaitan (mandolin, jembe Afrika), Muhammad Amin (jembe Afrika, dumbek Timur tengah, perkusi), Andre Farouk (symbal set dan snare drum), Ophiryanto (hasapi Toba, backing vokal).
Suarasama telah merilis tiga album yaitu Fajar diatas Awan (1988), Rites of Passage (2002) dan Lebah (2008). Album pertama mereka masuk dalam album Music of Indonesia 20: Indonesian Guitar yang diterbitkan oleh Smithsonian Folkways Recordings 1999 di Washington DC. Tepat 10 tahun kemudian, album tersebut kini diterbitkan kembali oleh Drag City, Chicago USA dalam bentuk CD dan LP dan dipasarkan kebeberapa dunia. Album pertama dan kedua dianggap sebagian kalangan memiliki nuansa jazz sehingga layak untuk mendapatkan apresiasi.
Sejumlah festival telah disambangi oleh kelompok ini, beberapa diantaranya Sharq Taronalari Festival di Uzbekistan (2001), Sufi Soul Festival di Pakistan (2001), Asian Composers Leage di New Zealand (2007), dan Sabuga Jazz Festival (2008) di Bandung. Sepertinya kelompok ini masuk dalam percaturan musik dari Indonesia yang diperhitungkan di kancah internasional.
Anda yang tertarik pada Suarasama tidak berkesempatan menonton Hitam Putih World Music Festival dapat membeli album tersebut dengan menghubungi sales@wartajazz.net
- Persembahan World Music untuk bumi di 6th Hitam-Putih World Music Festival 2008
- Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008
- Ancol World Music 2007
- Musik Etnik Memiliki Energi dan Nilai
- Solo International Ethnic Music Festival (SIEM)
- Digelar Riau Hitam-Putih International World Music Festival
- Festival Musik Bambu dan Pawai Budaya Nusantara Akan Semarakkan HUT ke-62 RI
- Solo International Ethnic Music Festival to be held in September
Most Popular Content
- Musik Kolintang Masuk Buku Rekor Dunia – Kolintang dan Musik Bambu Menakjubkan
- Festival Musik Bambu Nusantara 3 – Bambu Bukan Musik Ladang
- “Awakening Concert” oleh diDDI AGHEPE dkk. di Teater Salihara
- Konser launching SOL-Project digelar di Bentara Budaya
- Sambasunda tampil di Bentara Budaya Jakarta
- Suarasama di Hitam Putih World Music Festival 2008
- Persembahan World Music untuk bumi di 6th Hitam-Putih World Music Festival 2008
- “Kua Etnika” dan “Ulu Chandra” di Festival Darwin
- Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008
- Ancol World Music 2007
- Musik Etnik Memiliki Energi dan Nilai
- please click my website, thanks...
- wah jd inget masa lampau, dalam buat group B aj lah....
terutama nak 2bdg!!...
- wow, great event... ;-)...
- salam kenal juga,. . ....
- inilah website yang paling ditunggu khalayak pecinta world music nasional dan in...
- Sukses Buat Suarasama. Sukses juga Buat Bang Irwansyah, Ka Rithaony, Andre, Epen...
- Cosa nostra ingin mengucapkan jutaan terima kasih kepada Malay Music Institute (...
- assalamu "alaykum, salam sejahtera dan salam budaya... kami memiliki grup musik ...






