<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>worldmusicindonesia.com</title>
	<atom:link href="http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.worldmusicindonesia.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Nov 2009 02:32:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Musik Kolintang Masuk Buku Rekor Dunia &#8211;  Kolintang dan Musik Bambu Menakjubkan</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=79</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=79#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 02:32:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.worldmusicindonesia.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Musik kolintang dan musik bambu yang tumbuh dan berkembang di Minahasa, Sulawesi Utara, lalu berkembang ke seluruh wilayah Tanah Air tercatat dalam buku rekor dunia, The Guinnes Book World of Records. Dua seni tradisi itu dimainkan secara massal di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara, Sabtu (31/10).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tondano, Kompas &#8211; Musik kolintang dan musik bambu yang tumbuh dan berkembang di Minahasa, Sulawesi Utara, lalu berkembang ke seluruh wilayah Tanah Air tercatat dalam buku rekor dunia, The Guinnes Book World of Records. Dua seni tradisi itu dimainkan secara massal di Stadion Maesa, Tondano, Sulawesi Utara, Sabtu (31/10).</p>
<p>Pentas massal untuk pertama kali itu dilakukan oleh lebih dari 3.000 orang. Selain itu, juga dipamerkan perangkat kolintang dan musik bambu berukuran raksasa.</p>
<p>Sertifikat pengakuan Guinnes World Records (GWR) diserahkan perwakilan lembaga tersebut, Lucia Sinigagliesi, kepada pemrakarsa pergelaran, Benny J Mamoto, Direktur Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Sertifikat selanjutnya diserahkan kepada Bupati Minahasa, Vreeke Runtu.</p>
<p>Penyerahan sertifikat didahului dengan penghitungan jumlah pemain dan ukuran perangkat yang disyaratkan GWR, diikuti persembahan lagu ”Aki Tembo- temboan” dan ”Minahasa Kina Toanku” dengan iringan kolintang, dan lagu ”Mangemo Sako” dengan iringan musik bambu.</p>
<p>Hasil penghitungan tim GWR dan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara menunjukkan, jumlah pemain kolintang dan perangkatnya melebihi dari yang dipersyaratkan, yakni 1.223 orang. Untuk musik bambu, jumlah pesertanya bahkan mencapai 3.011 orang. Jumlah yang dipersyaratkan adalah minimal 1.000 orang untuk kolintang dan 1.000 orang untuk musik bambu.</p>
<p>Adapun ukuran raksasa kolintang yang terbuat dari kayu cempaka adalah panjang 8 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2 meter, berat 3,168 kilogram, dan volume bahan 13,7 meter kubik. Musik bambu yang berupa terompet seng klarinet berukuran panjang lengkung/lingkar dalam hingga luar 4-32 meter, diameter mulut 6 meter, dan tinggi 8 meter. Terompet itu terbuat dari stainless steel, sebagai modifikasi dan pengembangan bahan dari bambu. Alat musik tiup dari bahan asli bambu turut disertakan mengiringi lagu persembahan.</p>
<p>Menakjubkan</p>
<p>Lucia Sinigagliesi mengungkapkan, hasil penelitian tim GWR yang berkantor di London, Inggris, menunjukkan, instrumen, melodi, dan irama kolintang dan musik bambu di Indonesia belum ada yang menyamai di dunia. GWR mencatat kolintang dan musik bambu sebagai wujud seni tradisi yang menakjubkan dunia. (nar/zal)</p>
<p>Sumber http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/01/0336235/musik.kolintang.masuk.buku.rekor.dunia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=79</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Festival Musik Bambu Nusantara 3 &#8211; Bambu Bukan Musik Ladang</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=75</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=75#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 01:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.worldmusicindonesia.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Genre musik blues saja bisa mendunia dan tidak lagi berdiam di pojok kampung negro yang kumuh. Bagaimana dengan musik bambu milik Indonesia?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bambu Bukan Musik Ladang</strong></p>
<p>Genre musik blues saja bisa mendunia dan tidak lagi berdiam di pojok kampung negro yang kumuh. Bagaimana dengan musik bambu milik Indonesia?</p>
<p>Hak yang sama harus juga dimiliki musik bambu. Musik bambu memang musik tradisi yang lahir di ladang dan perkebunan. Itu adalah sejarah yang tidak bisa dilupakan. Tapi, sekarang sekat terhadap musik itu sendiri sudah hilang oleh kreativitas seniman. Musik bambu juga bisa hadir di kafe, pub, panggung modern dan lain-lain.</p>
<p>Musik bambu bukan musik ladang tentu bukan isapan jempol belaka. Sudah terbukti, misal, pada acara Festival Musik Bambu 2007 di Bali lalu. Mengutip tulisan wartawan lokal Bali, Anton Muhajir, puluhan orang tersentak oleh perpaduan musik tekno dan bambu di Warung Lapau Jl By Pass Ngurah Rai Sanur Denpasar.</p>
<p>Saat itu, Disc Jockey Kalsteen Schoorer dari Amerika Serikat dengan komputer Apple di depannya memainkan irama modern bertempo cepat sedangkan empat seniman lokal memainkan instrumen tradisional yang semuanya menggunakan bahan baku bambu: seruling, rindik, dan gendang.</p>
<p>“Irama rancak terdengar dari kolaborasi antarbudaya. Musik tekno Kalsten bertemu dengan irama Sunda. Mereka saling mengisi melahirkan harmoni,” tulisnya.</p>
<p>Apakah ini sebuah lompatan besar dari musik bambu? Presiden Republik Entertainment Wawan Juanda mengatakan musik adalah seni yang terus berkembang. Bunyi suatu alat tidak pernah ajeg pada satu momen, melainkan terus berkembang pada tiap zamannya. Begitu pula dengan musik bambu yang kini berkembang bukan sekadar permainan musik petani dan peladang.</p>
<p>”Ini merupakan perwujudan kita yang mengaku memiliki musik bambu sebagai aset budaya daerah. Kalau tidak pernah kita bunyikan musik bambu itu, orang tidak akan tahu kalau bambu merupakan produk asli Indonesia, termasuk Jawa Barat,” ujar Wawan Juanda, Presiden Republik Entertaiment.</p>
<p>Tentang musik bambu yang kadung disebut warisan tradisi, Wawan mengatakan tidaklah salah mengaktualisasikan musik bambu pada zaman yang terus berkembang. Perkembangan musik bambu ini pada akhirnya bagian cara melestarikan sebuah warisan karya budaya.</p>
<p>Peristiwa di Bali itu ingin dipoles lebih ”membumi” lagi pada perhelatan Festival Musik Bambu Nusantara 3 dimana Republik Entertaiment bekerjasama dengan Depbudpar RI dan Maharani Esa Sejati. Disebut membumi, kali ini Wawan ingin membawa sisi kontemporer musik bambu pada publik terbuka di Paris Van Java Mall, mall terbesar di utara Kota Bandung.</p>
<p>Kreasi musik bambu pada perhelatan ini akan ditunjukkan oleh kelompok musik, misal, Samba Sunda, Balawan and Batuan Etnic, dan C-Cord. Ketiga contoh kelompok ini setidaknya mewakili satu genre.</p>
<p>Samba Sunda dengan keahliannya meramu musik bambu dengan instrumen diatonis dan pentatonis sehingga kerap orang menyebutnya sebagai world music instrument. Balawan and Batuan Etnics akan menjadi wakil saat musik bambu berada pada sounds jazz yang  harmonis. Dan, C-Cord adalah satu kelompok yang bisa memperlihatkan ”kekerasan” musik bambu dalam aransemen rock.</p>
<p>”Silahkan datang dan buktikan kemampuan musik bambu bukan lagi musik ladang. Dan musik bambu akan seperti blues yang bisa mendunia,” ujar Wawan Juanda mengajak.</p>
<p>Perhelatan Festival Musik Bambu Nusantara 3 ini akan berlangsung 17-18 Oktober 2009. Perhelatan ini berbeda dari perhelatan yang pertama dan kedua. Kali ini, festival digelar di ruang publik. Pilihannya bukan pada galeri atau gedung konser.</p>
<p>”Agar publik pun ngeh dengan acara ini. Kalau di ruang-ruang seperti gedung konser atau galeri, maka terlalu eksklusif,” kata Wawan.</p>
<p>Dengan begitu, harapan dari festival ini adalah adanya  kepedulian  (public awareness) masyarakat terhadap peranan bambu dalam  kesenian, kebudayaan dan lingkungan hidup. Ruang terbuka pun memberi kesempatan orang membentuk grup secara bebas sehingga festival menjadi ajang pembentukan forum seniman bambu yang membumi.</p>
<p>Sebagai perwujudan ide ini, Republik Entertainment mengajak kerjasama Mall Paris Van Java yang menyediakan ruang terbukanya untuk even ini. Kerjasama juga dilakukan dengan Mansion, Megaplex dan juga E-plex yang berkontribusi menyediakan ruang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=75</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Awakening Concert&#8221; oleh diDDI AGHEPE dkk. di Teater Salihara</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=73</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=73#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 10:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.worldmusicindonesia.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Konsep musik ini bermula dari anggapan sebagian orang tentang angka 999 sebagai hari kebangkitan kesadaran dan keikhlasan yang bisa menerima kondisi diri apa adanya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Konsep musik ini bermula dari anggapan sebagian orang tentang angka 999 sebagai hari kebangkitan kesadaran dan keikhlasan yang bisa menerima kondisi diri apa adanya. Pada hari itu para <em>ascended masters</em>, para malaikat dan mahluk cahaya akan membimbing mereka yang merasa telah siap untuk menerima peningkatan kesadaran spiritual. Beberapa sumber bunyi komposisi musik diDDI AGHEPE<strong> </strong>diambil dari air, api, tanah, angin, serta khazanah vokal dari Tibet, Mongolia, Arab, Jawa, juga berbagai instrumen dan <em>software synthesizer</em>.</p>
<p>Konser ini akan diperkuat oleh Bintang Indrianto (bas, perkusi), Yuyun (vokal, penari), Epi Martison (perkusi dan instrumen tiup kayu), </span>Nanang Hape (dalang, vokal, gender, rebab, sitar, suling), serta Ammir Aghepe (perkusi, vokal). diDDI AGHEPE sendiri akan membawakan instrumen synthesizer, bansi, serunai, dan gendang Bali.</p>
<p><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">diDDI AGHEPE<strong> </strong>telah mengerjakan musik untuk sinetron, film, dan pentas tari. Ia belajar komposisi di Institut Kesenian Jakarta. Ia menyebut musiknya sebagai <em>ethno-techno</em>, yang sarat ramuan suara elektronik dan suara etnik tradisi. Ia <span>juga</span> <span>membuat</span> <span>musik-musik</span> <span>dari</span> <span>kumpulan</span> <span>dzikir</span>, mantra <span>atau pun</span> <span>doa</span> <span>dari</span> berbagai komunitas keagamaan</span>.</p>
<p>Konser bertajuk <em>Awakening </em>ini akan <span style="font-size: 10pt;">diselenggarakan di Teater Salihara pada hari Rabu, 09 September 2009 pukul 20:00 WIB. Tiket seharga Rp 50.000,- (dan Rp 25.000,- khusus untuk pelajar/mahasiswa) dapat diperoleh langsung di Komunitas Salihara, melalui Carla di </span>0817-077-1913, 021-9619-2632, atau <span style="font-size: 10pt;">secara on-line melalui <a href="http://www.salihara.org/" target="_blank">www.salihara.org</a>.</span><span style="font-size: 10pt;"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=73</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konser launching SOL-Project digelar di Bentara Budaya</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=70</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=70#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 06:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.worldmusicindonesia.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Kelompok SOL-Project akan menggelar konser sekaligus syukuran launching album kedua mereka yang digelar di Bentara Budaya, Kamis 28 Mei 2009 mulai pukul 19.00 wib.
Rudi Octave, leader sekaligus pemain keyboard SOL-Project membenarkan hal ini. Didampingi Cecilia Ventura, vokalis wanita dikelompok ini, Rudi menjelaskan rencananya kepada Redaksi WorldMusicIndonesia (WMI) beberapa waktu lalu. &#8220;Kami akan didukung oleh Kedutaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kelompok SOL-Project akan menggelar konser sekaligus syukuran launching album kedua mereka yang digelar di Bentara Budaya, Kamis 28 Mei 2009 mulai pukul 19.00 wib.</p>
<p>Rudi Octave, leader sekaligus pemain keyboard SOL-Project membenarkan hal ini. Didampingi Cecilia Ventura, vokalis wanita dikelompok ini, Rudi menjelaskan rencananya kepada Redaksi WorldMusicIndonesia (WMI) beberapa waktu lalu. &#8220;Kami akan didukung oleh Kedutaan Besar Kolombia di Jakarta&#8221;, dan akan manggung dengan full team&#8221;, ujarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=70</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambasunda tampil di Bentara Budaya Jakarta</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=66</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=66#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 11:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[sambasunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.worldmusicindonesia.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Sambasunda adalah kelompok musik unik yang menggabungkan berbagai elemen instrumen musik dari latar belakang budaya yang berbeda. Mereka akan tampil di Bentara Budaya Jakarta, 11 Desember 2008 mendatang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sambasunda  adalah kelompok musik unik yang menggabungkan berbagai elemen instrumen musik dari latar belakang budaya yang berbeda. Dari musik tradisional klasik yang mencirikan energi urban Bandung hari ini sampai jelajah musik dari kultur budaya daerah lain.</p>
<p>Dari suara gong, tiupan seruling bambu lengkap dengan tabuhan perkusi, sampai vokal yang acapkali liar yang dikenal sebagai senggakan yang dilantunkan secara improvisasi. Pada intinya, kelompok musik ini membawa napas baru musik gamelan degung Sunda dipadukan dengan  instrumen musik angklung dengan menambahkan bermacam musik tradisional. Misalnya musik keroncong Jakarta, jaipongan Sunda, musik kebyar dari Bali serta ritme samba dari Brasil yang dinamis.</p>
<p>Kelompok Sambasunda yang bermarkas di Bandung ini, menawarkan kepada kita  musik inovatif dan kreatif berbasis orkes gamelan dengan gaya baru.</p>
<p>Konser Sambasunda akan berlangsung Kamis, 11 Desember 2008 mulai Pukul 19.00 WIB di Bentara Budaya, Jl.Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270 Telepon : (021) 5483008, 5490666 ext.7910 Fax : (021) 53699181</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=66</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suarasama di Hitam Putih World Music Festival 2008</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=63</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=63#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 04:33:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.worldmusicindonesia.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Lagu pertama yang dibawakan Suarasama merupakan sebuah lagu dedikasi pada Nusrat Fateh Ali Khan dengan mengangkat tradisi Qawwali, sebuah musik yang kerap disebut sebagai musik sufi, yang dalam tingkat tertentu mampu mencapai "spiritual ecstasy" dalam sufisme.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2008/11/hitam-putih-festival-riau-2008-head.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4345" title="hitam-putih-festival-riau-2008-head" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/uploads/2008/11/hitam-putih-festival-riau-2008-head.jpg" alt="" width="375" height="200" /></a></p>
<p>Salah satu syarat untuk dapat mengekplorasi musik etnik kita harus faham benar musik etnik yang ada, demikian salah satu komentar Irwansyah Harahap, musisi sekaligus etnomusikolog dari Medan tatkala diwawancara oleh MC dimalam pertama pagelaran Hitam Putih World Music Festival 2008 di Bandar Serai, Pekanbaru, Riau.</p>
<p><a class="thickbox" title="Irwansyah Harahap Suarasama Medan tengah diwawancara MC" href="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/dsc_0041.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/dsc_0041.jpg" alt="Irwansyah Harahap Suarasama Medan tengah diwawancara MC" /></a></p>
<p>Keesokan harinya (24/10), ia membuktikan ucapannya. Berbekal sebuah alat musik gambus <strong>Irwansyah Harahap </strong>tampil bersama sang istri <strong>Rithaony Hutajulu</strong> pada vocal dan sejumlah musisi lainnya, memukau penonton yang sebahagian besar anak-anak muda kota Pekanbaru dan sekitarnya.</p>
<p>Ada dua pendekatan konsep musik Suarasama yaitu musik kontemporer dengan pendekatan world music dan yang kedua musik dan tari tradisi sumatera utara.</p>
<p><a class="thickbox" title="Irwansyah Harahap &amp; Rithaony Hutajulu - Suarasama Medan" href="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-worldmusic-2008.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-worldmusic-2008.jpg" alt="Irwansyah Harahap &amp; Rithaony Hutajulu - Suarasama Medan" /></a></p>
<p>Pembuktian atas teori dan konsep diatas tertuang dalam karya-karya yang mereka sajikan malam itu. Lagu pertama misalnya &#8220;Bahtera&#8221; merupakan sebuah lagu dedikasi pada Nusrat Fateh Ali Khan dengan mengangkat tradisi Qawwali, sebuah musik yang kerap disebut sebagai musik sufi, yang dalam tingkat tertentu mampu mencapai &#8220;spiritual ecstasy&#8221; dalam sufisme. Rithaony yang pernah belajar dengan almarhum Nusrat mampu menyihir penonton untuk memberikan applaus yang meriah tatkala lagu ini usai ditampilkan.</p>
<p><a class="thickbox" href="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-124.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-124.jpg" alt="suarasama-hitamputih-124.jpg" /></a></p>
<p>Selanjutnya mengalir lagu Perang yang disusul oleh-oleh dari Medan, &#8220;Selayang Pandang&#8221; yang dirangkai dengan &#8220;Zapin Rindu&#8221;. Tatkala lagu ini baru selesai dimainkan, seoarang anak muda maju kedepan panggung dan membawa sebuah kertas bertuliskan Lebah. Rupanya ia meminta lagu tersebut untuk dibawakan. Sejatinya Suarasama sudah berniat menyelesaikan pertunjukan apalagi kedua MC sudah tiba dipanggung dan bersiap menutup. Rupanya teriakan lagi, lagi dan lagi terdengar cukup keras dan akhirnya mengalirlah &#8220;Lebah&#8221; sebagai encore pertunjukan Hitam Putih World Music Festival di hari kedua.</p>
<p>***</p>
<p>Menyimak Suarasama, saya seperti diingatkan pada hal serupa tatkala mendengarkan musik Krakatau. Bedanya pijakan Krakatau memang 100% di jazz. Sementara Irwansyah dan kawan-kawan tak melulu mengulik Jazz atau lebih tepatnya, konsentrasinya bukan semata pada jenis musik yang kaya improvisasi tersebut.</p>
<p><a class="thickbox" href="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-036.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-036.jpg" alt="suarasama-hitamputih-036.jpg" /></a></p>
<p>Hal itu mungkin dipengaruhi oleh kajian dan ketertarikannya pada konsep musik dunia yang dipelajarinya selama di University of Washington di Seattle, Amerika Serikat. Bukan sebuah kebetulan sang istri juga belajar di kampus yang sama tatkala keduanya menyelesaikan studi S2 bidang Etnomusikologi.</p>
<p>Irwansyah Harapan banyak menggali konsep musik dunia seperti kebudayaan musik afrika, Timur Tengah India, Sufi Pakistan, Eropa Timur, dan Asia Tenggara. Itu dinyatakan jelas dengan instrumentasi yang mereka hadirkan diatas panggung malam itu.</p>
<p><a class="thickbox" href="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-041.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-041.jpg" alt="suarasama-hitamputih-041.jpg" /></a></p>
<p>Inilah personel Suarasama malam itu, <strong>Irwansyah Harahap </strong>memainkan gambus, gitar akustik elektrik, <strong>Rithaony Hutajulu</strong> (vokal), <strong>Syainul Irwan </strong>(vokal, harmonium), <strong>Horas Panjaitan </strong>(mandolin, jembe Afrika), <strong>Muhammad Amin </strong>(jembe Afrika, dumbek Timur tengah, perkusi), <strong>Andre Farouk </strong>(symbal set dan snare drum), <strong>Ophiryanto</strong> (hasapi Toba, backing vokal).</p>
<p>Suarasama telah merilis tiga album yaitu Fajar diatas Awan (1988), Rites of Passage (2002) dan Lebah (2008). Album pertama mereka masuk dalam album Music of Indonesia 20: Indonesian Guitar yang diterbitkan oleh Smithsonian Folkways Recordings 1999 di Washington DC. Tepat 10 tahun kemudian, album tersebut kini diterbitkan kembali oleh Drag City, Chicago USA dalam bentuk CD dan LP dan dipasarkan kebeberapa dunia. Album pertama dan kedua dianggap sebagian kalangan memiliki nuansa jazz sehingga layak untuk mendapatkan apresiasi.</p>
<p><a class="thickbox" href="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-295.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://www.wartajazz.com/wp-content/gallery/riau-hitam-putih-international-2008/suarasama-hitamputih-295.jpg" alt="suarasama-hitamputih-295.jpg" /></a></p>
<p>Sejumlah festival telah disambangi oleh kelompok ini, beberapa diantaranya Sharq Taronalari Festival di Uzbekistan (2001), Sufi Soul Festival di Pakistan (2001), Asian Composers Leage di New Zealand (2007), dan Sabuga Jazz Festival (2008) di Bandung. Sepertinya kelompok ini masuk dalam percaturan musik dari Indonesia yang diperhitungkan di kancah internasional.</p>
<p>Anda yang tertarik pada Suarasama tidak berkesempatan menonton Hitam Putih World Music Festival dapat membeli album tersebut dengan menghubungi sales@wartajazz.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=63</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persembahan World Music untuk bumi di 6th Hitam-Putih World Music Festival 2008</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=39</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=39#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 10:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://worldmusicindonesia.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Riau Hitam – Putih Internasional merupakan event worldmusic yang dasar pelaksanaannya berangkat dari keinginan untuk melestarikan, mengembangkan dan memasyarakatkan musik tradisional ke masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Riau Hitam – Putih Internasional</strong> merupakan event <em>worldmusic </em>yang dasar pelaksanaannya berangkat dari keinginan untuk melestarikan, mengembangkan dan memasyarakatkan musik tradisional ke masyarakat, khususnya kalangan generasi muda. Dengan mengkolaborasikan musik modern ke unsur musik tradisional tempatan, diharapkan mampu menjaga kelestarian musik tradisi yang pada kenyataannya memang sudah diambang kepunahan.</p>
<p>Festival worldmusic ini diprakarsai dan ditaja langsung oleh Malay Music Institute serta didukung sepenuhnya oleh Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata propinsi Riau. Mengambil tema <strong>Worldmusic For The Earth : Persembahan Worldmusic Untuk Bumi</strong>, Riau Hitam – Putih Internasional diharapkan dapat memberikan sumbangsih lebih untuk tanah Melayu dan bumi tempat manusia berpijak.</p>
<p>MMI atau Malay Music Institut sebagai penyelenggara menyadari, bukan hanya keadaan seni musik tradisi saja yang menjadi perhatian kita saat ini, namun kondisi bumi tempat manusia berpijak juga sudah seharusnya mendapat perhatian lebih guna kelangsungan hidup manusia kearah yang lebih baik. Kelaparan yang bermula dari kemiskinan, Kebodohan, pembalakan liar, peperangan, krisis pangan, bencana alam serta pemanasan gobal, memang sudah membuat generasi muda kita khawatir, apakah mereka masih bisa hidup dengan layak dimasa &#8211; masa mendatang. Singkat kata, kalau bumi sudah tak nyaman untuk tempat bernaung, bagaimana mungkin kita bisa memikirkan kebudayaan, artinya apa yang kita lakukan saat ini yakni melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, akan sia – sia saja.</p>
<p>Festival akan digelar pada tanggal 23 – 25 Oktober 2008 di Kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji tepat di depan Anjung Seni Idrus Tin Tin, Pekanbaru &#8211; Riau.</p>
<p>Sejumlah penampil yang didaulat tampil dalam acara selama tiga hari ini antara lain Filedplayers (Malaysia), The Institut of Arts and Development (Thailand), Gangsadewa (Jogja), Geliga (Pekanbaru)<br />
Bengkalis – Riau, Klasik Gong Kampar &#8211; Riau, Suarasama (Irwansyah Harahap) Medan, Komunitas Maestro &#8211; Aceh, Dewan Kesenian Lampung, Natural Rhythm Ansamble (Pekanbaru), Riau Rhythm Chamber (Pekanbaru), Inhu – Riau, Modero Ansamble, Simplisius Juvenalis, The Malay &#8211; Jakarta, Balai Music Contempo &#8211; Kepri, Eka Cs (Pekanbaru), Cosa Nostra (Kuala Lumpur – Malaysia) dan Kucing Kucha (Bandung).</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut hubungi <strong>Malay Music Institute</strong> Jln. Jend. Sudirman No. 200 Komp. Ex Taman Budaya (BPP) Dinas BUDSENIPAR Prop. Riau tlp. +62 761 701 6227 Fax. +62 761 33778 email mmi_riau@yahoo.co.id / malaymusic_institute@yahoo.com kontak person : sdr. <strong>Dedi </strong>+62 852 788 00 5 00</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=39</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kua Etnika&#8221; dan &#8220;Ulu Chandra&#8221; di Festival Darwin</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=36</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=36#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 04:38:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://worldmusicindonesia.com/2008/08/15/kua-etnika-dan-ulu-chandra-di-festival-darwin/</guid>
		<description><![CDATA[Brisbane, (ANTARA News) &#8211; Kelompok musik &#8220;Kua Etnika&#8221; pimpinan Djaduk Ferianto, &#8220;Tanah Merege&#8221; (Tanah Hitam) dari Pulau Flores, dan grup tari Bali &#8220;Ulu Chandra&#8221; menjadi wakil Indonesia dalam Festival Darwin, Australia Utara.
Informasi yang dihimpun ANTARA di Brisbane, Selasa, menyebutkan, dalam festival tahunan seni budaya terbesar dan termegah di negara bagian Northern Territory (NT) itu, Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- google_ad_section_start -->Brisbane, (ANTARA News) &#8211; Kelompok musik &#8220;Kua Etnika&#8221; pimpinan Djaduk Ferianto, &#8220;Tanah Merege&#8221; (Tanah Hitam) dari Pulau Flores, dan grup tari Bali &#8220;Ulu Chandra&#8221; menjadi wakil Indonesia dalam Festival Darwin, Australia Utara.</p>
<p>Informasi yang dihimpun ANTARA di Brisbane, Selasa, menyebutkan, dalam festival tahunan seni budaya terbesar dan termegah di negara bagian Northern Territory (NT) itu, Indonesia juga menyuguhkan &#8220;Pesona Indonesia&#8221;.</p>
<p>Debut Indonesia dalam pesta seni yang semula bernama &#8220;Festival Bougainvillea&#8221; itu dimulai dengan pertunjukan &#8220;Tanah Merege&#8221; di Kebun Raya Darwin pada 21 Agustus malam.</p>
<p>Festival yang diadakan sejak 1978 itu berganti nama menjadi Festival Darwin sejak 1993</p>
<p>&#8220;Tanah Merege&#8221; menampilkan lima musisi asal Watublapi, Pulau Flores. Mereka menyuguhkan tarian, gong, dan musik ukulele. Pada 22 Agustus, giliran &#8220;Kua Etnika&#8221; unjuk kebolehan.</p>
<p>Kelompok musik orkestra yang memadukan unsur jazz, reggae, serta seni musik Bali dan Jawa itu dijadwalkan tampil di lokasi yang sama.</p>
<p>Selain musisi Indonesia, para musisi dari Kamboja, Timor Timur, Ethiopia, Liberia, dan Malta juga tampil dalam festival yang berlangsung pada 14-31 Agustus itu.</p>
<p>Kehadiran Indonesia dalam festival tahunan yang dikunjungi lebih dari 50 ribu orang itu juga dimeriahkan penampilan para seniman yang tergabung dalam &#8220;Pesona Indonesia&#8221;. Mereka akan tampil di teater &#8220;Amphi&#8221;, Kebun Raya Darwin pada 23 Agustus.</p>
<p>Grup tari &#8220;Ulu Chandra&#8221; tampil pada 25 Agustus.</p>
<p>Selain diisi dengan pertunjukan musik, tari, lokakarya, teater, dan permainan sains untuk anak-anak, Festival Darwin juga dimeriahkan dengan seni visual, bazar makanan, komedi, kabaret, serta pertunjukan film.(*)<!-- google_ad_section_end --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=36</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival 2008</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=35</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=35#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 17:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://worldmusicindonesia.com/2008/02/21/dji-sam-soe-super-premium-java-jazz-festival-2008/</guid>
		<description><![CDATA[
These senior musicians, appropriately referred as Oom (uncle, to address someone of senior status) will in turn perform with their own groups.  Some of these performers are Oom Bubi Chen, Oom Benny Likumahuwa, Oom Oele Pattiselanno and younger brother Oom Jacky Patiselanno, Oom Jeffrey Tahalele, siblings Oom Ireng and Oom Kiboud Maulana, and also [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://worldmusicindonesia.com/wp-content/uploads/2008/02/javajazz08.jpg" alt="javajazz08.jpg" /></p>
<p>These senior musicians, appropriately referred as Oom (uncle, to address someone of senior status) will in turn perform with their own groups.  Some of these performers are Oom Bubi Chen, Oom Benny Likumahuwa, Oom Oele Pattiselanno and younger brother Oom Jacky Patiselanno, Oom Jeffrey Tahalele, siblings Oom Ireng and Oom Kiboud Maulana, and also Oom Benny Mustafa van Deist.  The audience will be treated by their witty banters.  This is a form of Java Festival Production’s appreciation for these figures’ contributions to the development of jazz music in Indonesia, whilst also attempting to reintroduce the winding journey of jazz music for the younger generation.</p>
<p>Allotted at another program, there will also be senior musicians of the next generation.  Names such as Idang Rasjidi, Yance Manusama, Glen Dauna, Arief Setiadi, Harry Toledo and singer Syaharani dare not miss the opportunity to perform.  Amidst all these performances, there are two special performances.  First is the reemergence of Dian Pramana Poetra who has been withdrawing from the public eye.  His first public appearance, after years of pursuit, can be seen at a special project.  Second, is the performance of Dwiki Dharmawan who puts forward his project, “World Peace Orchestra Project”, which was recorded in Indonesia, the US and China.  Dwiki will be performing with international musicians who took part in the making of the album.  Previously, they had shared a stage in Los Angeles.  The “World Peace Orchestra” album will be launched in August 2008 in the United States.</p>
<p>There will also be a program that showcases groups comprising of Indonesia’s young talents, such as Souleh &amp; Soulehah, Phinisi (from Makassar), RAN, Parkdrive, Sister Duke and Ecoutez.  There will aso be performances by Dimi, Dira, Bibus, Eka Bhakti, Cindy Bernadette, Dewi Sandra, Barry Likumahuwa and many more.</p>
<p>Speculated from the musical possibilities to be exhibited, the variation of differences between Indonesia musicians is not only limited by age, but also by the colors of the music.  This is a result of different music influences and medium, which differs from one generation to the next.  What an amazing musical rainbow.</p>
<p>The international musicians who have confirmed their attendance for Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festival 2008 also represent different generations.  There are Joe Sample &amp; The Crusaders, Wilton Felder, Steve Gadd, Terumasa Hino, Lee Ritenour, Pat Martino, Ray Parker Jr., George Clinton (the Godfather of Funk) and the posse of Manhattan Transfer.  Then, there’s the likes of Omar Sosa, Tony Monaco, Kurt Elling, Dhafer Youssef, Tetsuo Sakurai and Jody Watlety, having already established their names in the music world.  The young generation of musicians due to perform include Gabriel Grossi and Daniel Santiago (Brazil), CODA, Sara Gazarek and the 17-year-old Renee Olstead.</p>
<p>To wrap it all up, Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festival 2008 is truly a festival for all generations, for all music lovers.</p>
<p>The previous Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festivals continued to present special menus.  It will not be any different this 7, 8 and 9 March 2008 (have you marked your calendars?).  One of the special programs scheduled for the event’s fourth year is the performances of Indonesian jazz legends, on one stage, called “ The Indonesian Legend of Jazz</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=35</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ancol World Music 2007</title>
		<link>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=33</link>
		<comments>http://www.worldmusicindonesia.com/?p=33#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 03:50:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Concert]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://worldmusicindonesia.com/2007/12/07/ancol-world-music-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Ancol World Music 2007
Sabtu, 8 Desember 2007
Jam 19.00 &#8211; selesai
Pasar Seni Ancol
Menampilkan,
Indra Lesmana &#8211; Pra Budidharma &#8211; Gilang Ramadhan (Kayon)
Balawan &#38; Batuan Ethnic Fusion
Vicky Sianipar &#8211; Nugie
Riza Arshad &#8211; Tohpati (SimakDialog)
Nera
Mc. Shanaz Haque &#38; Farid Shigeta
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ancol World Music 2007</p>
<p>Sabtu, 8 Desember 2007<br />
Jam 19.00 &#8211; selesai<br />
Pasar Seni Ancol</p>
<p>Menampilkan,<br />
Indra Lesmana &#8211; Pra Budidharma &#8211; Gilang Ramadhan (Kayon)<br />
Balawan &amp; Batuan Ethnic Fusion<br />
Vicky Sianipar &#8211; Nugie<br />
Riza Arshad &#8211; Tohpati (SimakDialog)<br />
Nera</p>
<p>Mc. Shanaz Haque &amp; Farid Shigeta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.worldmusicindonesia.com/?feed=rss2&amp;p=33</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
