Festival - Written by nana on Thursday, September 6, 2007 4:36 - 1 Comment

Musik Etnik Memiliki Energi dan Nilai

Musik Etnik Memiliki Energi dan Nilai
Media Berat Sebelah, Musik Menjadi “Lekoh”

SOLO, KOMPAS – Tanpa harus menempatkan musik etnis dan musik populer pada jenjang hierarki, hadirnya forum Solo International Ethnic Music and Conference atau SIEM, 1-5 September 2007 diSOlo, Jawa Tengah, sebaiknya dilihat sebagai panggung pengenalan kembali potensi musik etnis dunia yang terus terpinggirkan.

“Forum SIEM sebaiknya dilihat sebagai pembuka telinga akan potensi yang terkandung dalam musik etnis dunia,” kata Yasudah, Sekretaris Jenderal SIEM dalam perbincangan dengan kompas disela-sela workshop diKampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Minggu (2/9). Santosa, etnomusikolog dari ISI Surakarta, melihat media yang berat sebelah telah telah mendorong perkembangan musik etnik jadi lekoh atau bernuansa seronok.

Yasudah mengemukakan, Panitia SIEM tidak punya keinginan mengategorikan penampilan baik atau buruk. Menurut dia, target jangka pendek SIEM adalah pergelaran musik dan menumbuhkan apresiasi publik. Dalam jangka sedang diharapkan mendorong stakeholder memikirkan ruang publik bagi musik etnik serta regenerasi apresiasi.

“Tidak terpikir memoles musik etnis mereka. kalai dipoles, mungkin sudah tidak etnis lagi. Karena itu, kita tidak perlu membandingkan, apa lagi menilai baik dan buruk satu etnis terhadap yang lain,” ujarnya.

Santosa, Kepala Bidang Konferensi SIEM, menambahkan, orientasi visual media lebih kuat, sampai-sampai musikpun harus sampai visual, “Telinga kita makin ditulikan karena cenderung visual dan tidak bisa menghargai yang auditif. Musik apapun kini cenderung diberi penari latar. Padahal, musik etnik punya energi dari dalam,” kata dosen PascaSarjana ISI Surakarta itu.

Menurut dia, musik etnik mengandung pesan yang dalam, dan kekuatan itu mencerdaskan, termasuk unsur pendidikan, pembentukan etika. “Potensi etis itu ada dalam musik etnis mesti sifatnya multitafsir,” ujarnya.

Pengaruh besar media, tambahnya, dengan mendorong musik etnis ke ekspresi visual cenderung menjadi ekspresi yang lekoh-ungkapan Jawa yang menggambarkan seronok atau bernuansa seksual. (HRD/SON).

Dikutip dari Harian Kompas Senin, 3 September 2007



1 Comment

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

asep supriadi
Aug 4, 2009 1:32

please click my website, thanks

Leave a Reply

Comment

Most Popular Content